Islam Nusantara

Kajian Islam

Berita

Recent Posts

Fadhilah Agung Memakai Peci atau Kopiah bagi Orang Islam

Fadhilah Agung Memakai Peci atau Kopiah bagi Orang Islam
MusliModerat.Com -Peci atau kopiah merupakan istilah lain dari penutup kepala yang sering digunakan oleh seorang pria muslim untuk acara-acara keagamaan maupun acara resmi lainnya.

Inti dari pemakaian peci adalah mengikuti sunnah nabi Muhammad. Beberapa hadis menyebutkan bahwa Rasulullah selalu memakai penutup kepala, baik secara sempurna dengan Imamah /udeng-udeng (semacam sorban yang diikatkan di kepala, di dasari oleh peci haji atau hanya sorban saja) maupun penutup yang sangat sederhana berupa kain yang diletakkan diatas kepala semacam peci haji.

Rahasia pemakaian peci adalah menjaga adab dan sopan santun kita terhadap Allah swt. Sesederhana apapun bentuknya, peci sangat dianjurkan untuk digunakan kapanpun kita berada, kecuali ketika tidur atau dalam keadaan yang tidak patut. Karenanya tidak heran ketika penulis menemui seorang ulama besar yang telah tua renta di Jeddah KSA, beliau masih terus setia mengenakan peci dan baju putih dengan rapih layaknya orang mau menghadap untuk sholat, padahal beliau sudah tidak bisa berdiri apalagi berjalan. Hanya diam dan memejamkan mata dalam pembaringannya. Maklum saja mengingat orang yang paling beradab dan merasa takut dengan Tuhannya adalah orang-orang yang berilmu tinggi seperti beliau. Berbeda dengan orang awam yang masih suka koleksi baju warna-warni dan jarang sekali/bahkan tidak pernah memakai peci, dalam sholat sekalipun. Karena kita memang tidak takut Tuhan dan tidak memperdulikan adab denganNya.

Bagi seorang ulama atau publik figur yang biasa menggunakan peci dalam keseharian mereka, tidak adanya peci sebab hilang atau lainnya, merupakan salah satu dispensasi khusus dibolehkannya mereka untuk tidak mengikuti sholat jum’at maupun jamaah sholat fardu lainnya. Dalam keadaan ini setip orang boleh menggantinya dengan sholat duhur dan jamaah sendiri dirumah. Hal ini dikarenakan menjaga muru’ah (harga diri) ulama di depan publiknya. Begitu berharga martabat peci dalam pandangan agama sehingga tanpa peci dan pakaian yang layak, seorang publik figur termasuk dalam kategori orang yang diberi dispensasi untuk meninggalkan jum’at dan jamaah.

Faidah
Sebuah hadis menjelaskan bahwa para malaikat bershalawat (memintakan ampunan kepada Allah) bagi orang sholat yang memakai imamah atau penutup kepala.
Abdurrahman Al-mashur menjelaskan hadis ini dalam kitab ‘Bugyah’: “Bahwasanya semua pemakai penutup kepala mendapatkan fadhilah doa dari para malaikat dan sunnah nabi, baik yang sederhana seperti peci saja dengan warna apapun, atau secara sempurna dengan menambahkan sorban yang diikatkan di atas peci.

Disamping itu para pemakai peci juga memiliki keistimewaan khusus berupa pahala yang dilipatgandakan. Seperti dijelaskan dalam sebuah hadis fahdhailul a’mal. “Sholat orang yang menggunakan peci lebih baik dan utama tujuh puluh kali lipat daripada sholatnya orang yang tidak menggunakannya”.

Beberapa keutamaan dan anjuran pemakaian peci yang telah dipaparkan tadi sekaligus menegaskan bahwa peci bukanlah sekedar produk budaya suatu daerah tertentu. Sebaliknya peci adalah gambaran dari bentuk adab dan sopan santun kita terhadap sang pencipta yang telah dipelopori oleh panutan sejati kita, Rasulullah.

NU Jangan Sampai Digerogoti Ideologi Syiah dan Wahabi

NU Jangan Sampai Digerogoti Ideologi Syiah dan Wahabi
MusliModerat.Com - KH. Ahmad Hasyim Muzadi, Pengasuh Pondok Pesantren Mahasiswa Al-Hikam Malang Jawa Timur dan Depok Jawa Barat, menegaskan bahwa dunia Islam sekarang terbelah menjadi dua kekuatan. Yaitu kekuatan Syiah yang dipimpin oleh Iran dan kekuatan Wahabiyah (Salafi) yang dipimpin oleh Arab Saudi. Mereka saling berebut pengaruh sehingga menimbulkan konflik bahkan perang di luar areal kedua negara tersebut.

"Posisi Ahlussunnah wal Jama'ah (Aswaja) di dunia yang sesungguhnya mayoritas dalam jumlah berubah menjadi ajang perebutan pengaruh baik ideologi, politik, maupun finansial,” kata Kiai Hasyim Muzadi dalam Konferensi Internasional yang digelar Jam'iyyah Ahlit Thariqah al-Mu'tabarah an-Nahdliyyah (JATMAN) bekerjasama dengan Kementerian Pertahanan (Kemenhan) Republik Indonesia di Pekalongan 27-29 Juli 2016.

Menurut Kiai Hasyim, Aswaja seakan menjadi ring pertikaian dari permusuhan Syiah dan Wahabi. Padahal Aswaja adalah konsep agama yang secara ilmiah dan amaliyah melalui jalur wasathiyah (moderat) dan tidak menyiapkan diri untuk menyerang siapapun yang mempunyai manhaj lain. “Sehingga ketika terjadi himpitan-himpitan dari kekuatan agresif ini kaum Sunni (Aswaja) jadi kedodoran,” tutur Kiai Hasyim.

Pertarungan dari dua kubu besar tersebut –menurut Kiai Hasyim Muzadi- dalam kenyataan prosesnya selalu dimanfaatkan oleh kepentingan global yang mengambil keuntungan dalam mengaduk-aduk kondisi umat Islam. Sehingga terjadilah pertikaian bahkan peperangan. "Pertikaian yang asalnya firqah diniyah (sekte) berkembang menjadi pertikaian politik dan ekonomi global yang semakin sulit diselesaikan."

Kenyataan ini –tegas dia- sangat memprihatinkan. Ia mensinyalir bawha konflik adu domba ini bisa jadi masuk ke Indonesia akibat dua faktor besar. "Pertama, Indonesia sebagai negara Muslim Sunni terbesar di dunia dapat diperhitungkan sebagai lahan sasaran. Kedua, faktor sumber daya alam Indonesia yang terkaya dan terbesar di dunia."

Menurut beliau, tanda-tanda konflik di dalam Islam sudah mulai terasa dilanjutkan dengan konflik lintas agama yang akhirnya menjadi konflik agama dan negara. "Reformasi Indonesia sejak amandemen UUD 1945 tahun 2002 memudahkan masuknya anasir-anasir konflik tersebut karena keterbukaan Indonesia yang sangat luas baik menyangkut ideologi, agama, politik, hukum, pendidikan dan budaya. Oleh karenanya kasus-kasus konflik tersebut menyangkut juga konflik kawasan seperti rawannya situasi keamanan Papua dan di lingkar perbatasan Indonesia,” tegas Kiai Hasyim Muzadi.

Untuk menanggulangi masalah-masalah berat tersebut, menurut Kiai Hasyim Muzadi, haruslah dengan penguatan Ahlussunnah wal Jama'ah an-Nahdliyah, tata organisasi NU, dan peranan NU pada tingkat nasional dan internasional. Sayangnya, di kalangan umat nahdliyin sendiri sudah mulai digerogoti oleh ideologi lain dan menurunnya peranan NU. Karena itu beliau berharap jangan sampai NU dilemahkan lewat penyusupan ideologi lain yang sedang bertikai di dunia tersebut serta parpolisasi NU yang akan memperkecil peranan NU itu sendiri.

Selain itu, kata Kiai Hasyim Muzadi, penanggulangan penyakit-penyakit bangsa seperti narkoba, terorisme, LGBT, korupsi, dan neokomunisme, harus benar-benar diperhatikan. Sebab kalau tidak berhasil ditanggulangi maka akan runtuhlah nasionalisme Indonesia dan bahkan berganti penguasaan asing terhadap Indonesia. Ironisnya, dalam kondisi tantangan yang semakin berat, NU justeru menjadi semakin lemah.

Sumber: Sya'roni Assyamfuri

Diperbolehkan Melihat Aurat Vital Suami atau Isteri

MusliModerat.Com -- Memperlihatkan aurat kepada lawan jenis dibolehkan selama keduanya sudah sah menjadi suami-istri. Apabila belum menikah, baik laki-laki maupun perempuan diwajibkan menutup aurat. Penutupan aurat ini bertujuan agar kehormatan manusia terjaga dan terlindungi dari gangguan tangan dan mata jahil.

Kendati dibolehkan melihat aurat istri ataupun suami, namun pertanyaannya apakah semua bagian tubuhnya boleh dilihat? Atau ada bagian-bagian tertentu yang tidak boleh dilihat, alat vital misalnya?

Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa Aisyah seumur hidup tidak pernah melihat kemaluan Rasulullah SAW (HR Ibnu Majah). Hadits ini dijadikan dalil oleh sebagian orang untuk memakruhkan melihat kemaluan pasangan, meskipun sudah menikah. Karenanya, pasangan suami-istri pada saat berhubungan intim dianjurkan mematikan lampu atau menggunakan selimut agar satu sama lain tidak melihat alat vital pasangannya.

Namun pendapat ini dibantah oleh ulama yang membolehkan. Di antara alasannya, hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah ini masih diperdebatkan keabsahannya. Selain itu, terdapat hadits lain yang mengisyaratkan kebolehan melihat alat vital pasangan. Ibnu Qudamah dalam Al-Mughni mengatakan sebagai berikut.

ويباح لكل واحد من الزوجين النظر إلى جميع بدن صاحبه ولمسه حتى الفرج لما روي بهز بن حكيم عن أبيه عن جده قال: قلت: يا يارسول الله، عوراتنا مانأتي منها وما نذر؟ فقال: احفظ عورتك إلا من زوجتك وما ملكت يمينك. رواه الترمذي وقال حديث حسن، ولأن الفرج يحل له الاستمتاع به، فجاز النظر إليه ولمسه، كبقية البدن.

Artinya, “Dibolehkan bagi pasangan suami-istri melihat dan menyentuh semua bagi tubuh pasangannya, termasuk alat vitalnya. Pendapat ini didasarkan pada riwayat Bahaz bin Hakim, bahwa kakeknya bertanya kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah SAW, mana aurat yang boleh kami buka dan mesti kami tutup?’ Rasul menjawab, ‘Tutup auratmu kecuali untuk istrimu dan budakmu.’ Menurut At-Tirmidzi, status kekuatan hadits ini adalah hasan. Mengapa diperbolehkan? Karena alat vital adalah tempat istimta’ (bersedap-sedapan) dan diperbolehkan melihat dan menyentuhnya, seperti anggota tubuh lainnya.”

Dalam Al-Qur’an, hubungan suami-istri ditamsilkan sebagai ladang garapan, (QS: Al-Baqarah 223). Berpijak pada keumuman ayat ini, gaya apapun diperbolehkan selama berhubungan intim selama tidak melalui dubur. Sebab itu, kebanyakan ulama memperbolehkan melihat alat vital suami atau istri bila memang dibutuhkan.

Seperti yang dikatakan Ibnu Qudamah, hukumnya disamakan dengan melihat anggota tubuh lainnya. Tidak hanya melihatnya yang diperbolehkan, tetapi juga menyentuhnya selagi ada hajat. Wallahu a’lam. (Hengki Ferdiansyah/NU Online)

Dua Imam Ahli Hadits Kota Malang, Habib Abdul Qadir Bilfaqih dan Habib Abdullah Bilfaqih


Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih Al-Alawy 
Imam Al-Habr Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih Al-Alawy dilahirkan di kota Tarim, Hadramaut, pada hari Selasa 15 Safar tahun 1316 H/1896 M. Saat bersamaan menjelang kelahirannya, salah seorang ulama besar, Habib Syaikhan bin Hasyim Assegaf, bermimpi bertemu Sulthanul Auliya’ Syekh Abdul Qadir Jailani. Dalam mimpi itu Syekh Abdul Qadir Jailani menitipkan kitab suci Al-Quranul Karim kepada Habib Syaikhan bin Hasyim Assegaf agar diberikan kepada Habib Ahmad bin Muhammad Bilfagih.
Pagi harinya Habib Syaikhan menceritakan mimpinya kepada Habib Ahmad. Habib Ahmad mendengarkan cerita dari Habib Syaikhan, kemudian berkata, ”Alhamdulillah, tadi malam aku dianugerahi Allah SWT seorang putra. Dan itulah isyarat takwil mimpimu bertemu Syekh Abdul Qadir Jailani yang menitipkan Al-Quranul Karim agar disampaikan kepadaku. Oleh karena itu, putraku ini kuberi nama Abdul Qadir, dengan harapan, Allah SWT memberikan nama maqam dan kewalian-Nya sebagaimana Syekh Abdul Qadir Jailani.”
Demikianlah, kemudian Habib Ahmad memberi nama Abdul Qadir karena mengharap berkah (tafa’ul) agar ilmu dan maqam Abdul Qadir seperti Syekh Abdul Qadir Jaelani.
Sejak kecil, ia sangat rajin dan tekun dalam mencari ilmu. Sebagai murid, ia dikenal sangat cerdas dan tangkas dalam menerima pelajaran. Pada masa mudanya, ia dikenal sebagai orang yang mempunyai perhatian besar terhadap ilmu dan menaruh penghormatan yang tinggi kepada guru-gurunya. Tidaklah dinamakan mengagungkan ilmu bila tidak memuliakan ahli ilmu, demikian filosofi yang terpatri dalam kalbu Habib Abdul Qadir.
Pernah suatu ketika di saat menuntut ilmu pada seorang mahaguru, ia ditegur dan diperingatkan, padahal Habib Abdul Qadir waktu itu pada pihak yang benar. Setelah memahami dan mengerti bahwa sang murid berada di pihak yang benar, sang guru minta maaf. Namun, Habib Abdul Qadir berkata, ”Meskipun saya benar, andaikan Paduka memukul muka hamba dengan tangan Paduka, tak ada rasa tidak menerima sedikit pun dalam diri hamba ini.” Itulah salah satu contoh keteladanan yang tinggi bagaimana seorang murid harus bersopan-santun pada gurunya.
Guru-guru Habib Abdul Qadir, antara lain, Habib Abdullah bin Umar Asy-Syatiry, Habib Alwy bin Abdurrahman Al-Masyhur, Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf, Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdor, Syekh Segaf bin Hasan Alaydrus, Syekh Imam Muhammad bin Abdul Qadir Al-Kattany, Syekh Umar bin Harridan Al-Magroby, Habib Ali bin Zain Al-Hadi, Habib Ahmad bin Hasan Alatas, Habib Ali bin Muhammad Al-Habsy, Syekh Abubakar bin Ahmad Al-Khatib, Syekh Abdurrahman Bahurmuz.
Dalam usia yang masih anak-anak, ia telah hafal Al-Quran. Tahun 1331 H/1912 M, ia telah mendapat ijazah dan berhak memberikan fatwa agama, antara lain di bidang hukum, dakwah, pendidikan, dan sosial. Ini merupakan anugerah Allah SWT yang telah diberikan kepada hamba pilihan-Nya.
Maka tidak berlebihan bila salah seorang gurunya, Habib Alwi bin Abdullah bin Syihab, menyatakan, ”Ilmu fiqih Marga Bilfagih setara dengan ilmu fiqih Imam Adzro’iy, sedangkan dalam bidang tasawuf serta kesusastraan bagai lautan tak bertepi.”
Sebelum meninggalkan kota Tarim untuk berdakwah, di tanah kelahirannya ia sempat mendirikan organisasi pendidikan sosial Jami’yyatul Ukhuwwah wal Mu’awanah dan Jami’yyah An-Nasr Wal Fudho’il tahun 1919 M.
Sebelum berhijrah ke Indonesia, Habib Abdul Qadir menyempatkan diri beribadah haji dan berziarah ke makam Nabi Muhammad SAW. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan dan singgah di beberapa kota dan negara, seperti Aden, Pakistan, India, Malaysia, dan Singapura. Di setiap kota yang disinggahi, ia selalu membina umat, baik secara umum maupun khusus, dalam lembaga pendidikan dan majelis taklim.
Tiba di Indonesia tepatnya di kota Surabaya tahun 1919 M/1338 H dan langsung diangkat sebagai direktur Madrasah Al-Khairiyah. Selanjutnya, ia mendirikan Lembaga Pendidikan Madrasah Ar-Rabithah di kota Solo tahun 1351 H/1931 M.
Selepas bermukim dan menunaikan ibadah haji di Makkah, sekembalinya ke Indonesia tanggal 12 Februari 1945 ia mendirikan Pondok Pesantren Darul Hadits Al-Faqihiyyah dan Perguruan Islam Tinggi di kota Malang. Ia pernah diangkat sebagai dosen mata kuliah tafsir pada IAIN Malang pada 1330 H/1960 M.
Keistimewaan Habib Abdul Qadir adalah, ia ahli ilmu alat, nahwu, sharaf, manthiq, ilmu kalam, serta ma’any, bayan, dan badi (tiga yang terakhir merupakan bagian ilmu sastra). Dalam bidang hadits, penguasaannya adalah bidang riwayat maupun dirayah, dan hafal ribuan hadits. Di samping itu, ia banyak mendapat hadits Al-Musalsal, yakni riwayat hadits yang tersambung langsung kepada Rasulullah SAW. Ini diperolehnya melalui saling tukar isnad (saling menukar periwayatan hadits) dengan Sayid Alwy bin Abas Al-Maliky saat berkunjung ke Makkah.
Sebagai seorang ulama yang menaruh perhatian besar dalam dunia pendidikan, ia juga giat mendirikan taklim di beberapa daerah, seperti Lembaga Pendidikan Guru Agama di Sawangan, Bogor, dan Madrasah Darussalam Tegal, Jawa Tengah.
Banyak santrinya yang di kemudian hari juga meneruskan jejaknya sebagai muballigh dan ulama, seperti Habib Ahmad Al-Habsy (Ponpes Ar-Riyadh Palembang), Habib Muhammad Ba’abud (Ponpes Darul Nasyi’in Malang), (Ponpes Al-Khairat Jakarta Timur), Habib Syekh bin Ali Al JufriK.H. Alawy Muhammad (Ponpes At-Taroqy Sampang, Madura). Perlu disebutkan, Prof. Dr. Quraisy Shihab dan Prof. Dr. Alwi Shihab pun alumnus pesantren ini.
Habib Abdul Qadir wafat pada 21 Jumadil Akhir 1382 H/19 November 1962 dalam usia 62 tahun. Kala saat-saat terakhirnya, ia berkata kepada putra tunggalnya, Habib Abdullah, ”… Lihatlah, wahai anakku. Ini kakekmu, Muhammad SAW, datang. Dan ini ibumu, Sayyidatunal Fatimah, datang….” Ribuan umat berdatangan untuk meyampaikan penghormatan terakhir kepada sang permata ilmu yang mumpuni itu. Setelah disemayamkan di Masjid Jami’ Malang, ia dimakamkan di kompleks makam Kasin, Malang, Jawa Timur.
HABIB ABDULLOH BILFAQIH R.A
Habib ‘Abdullah bin ‘Abdul Qadir bin Ahmad BalFaqih al-’Alawi adalah ulama yang masyhur alim dalam ilmu hadits. Beliau menggantikan ayahandanya Imam Al-Habr Habib ‘Abdul Qadir bin Ahmad BalFaqih sebagai penerus mengasuh dan memimpin pesantren yang diasaskan ayahandanya tersebut pada 12 Rabi`ul Awwal 1364 / 12 Februari 1945 di Kota Malang, Jawa Timur. Pesantren yang terkenal dengan nama Pondok Pesantren Darul Hadits al-Faqihiyyah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Pesantren ini telah melahirkan ramai ulama yang kemudiannya bertebaran di segenap pelusuk Nusantara. Sebahagiannya telah menurut jejak langkah guru mereka dengan membuka pesantren-pesantren demi menyiarkan dakwah dan ilmu, antaranya ialah Habib Ahmad al-Habsyi (PP ar-Riyadh, Palembang), (PP Darun Nasyi-in, Lawang), Habib Muhammad Ba’AbudKiyai Haji ‘Alawi Muhammad (PP at-Taroqy, Sampang, Madura) dan masih banyak lagi yang lainnya.
Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfaqih
Bak Pinang Dibelah Dua
Bapak dan anak sama-sama ulama besar, sama-sama ahli hadits, sama-sama pendidik ulung dan bijak. Merekalah Habib Abdul Qadir dan Habib Abdullah.
Masyarakat Malang dan sekitarnya mengenal dua tokoh ulama yang sama-sama kharismatik, sama-sama ahli hadits, sama-sama pendidik yang bijaksana. Mereka adalah bapak dan anak: Habib Abdul Qadir Bilfagih dan Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfagih. Begitu besar keinginan sang ayah untuk “mencetak” anaknya menjadi ulama besar dan ahli hadist – mewarisi ilmunya.
Ketika menunaikan ibadah haji, Habib Abdul Qadir Bilfagih berziarah ke makam Rasulullah SAW di kompleks Masjid Nabawi, Madinah. Di sana ia memanjatkan doa kepada Allah SWT agar dikaruniai putra yang kelak tumbuh sebagai ulama besar, dan menjadi seorang ahli hadits.
Beberapa bulan kemudian, doa itu dikabulkan oleh Allah SWT. Pada 12 Rabiul Awal 1355 H/1935 M, lahirlah seorang putra buah pernikahan Habib Abdul Qadir dengan Syarifah Ummi Hani binti Abdillah bin Agil, yang kemudian diberi nama Abdullah.
Sesuai dengan doa yang dipanjatkan di makam Rasulullah SAW, Habib Abdul Qadir pun mencurahkan perhatian sepenuhnya untuk mendidik putra tunggalnya itu. Pendidikan langsung ayahanda ini tidak sia-sia. Ketika masih berusia tujuh tahun, Habib Abdullah sudah hafal Al-Quran.
Hal itu tentu saja tidak terjadi secara kebetulan. Semua itu berkat kerja sama yang seimbang antara ayah yang bertindak sebagai guru dan anak sebagai murid. Sang guru mengerahkan segala daya upaya untuk membimbing dan mendidik sang putra, sementara sang anak mengimbanginya dengan semangat belajar yang tinggi, ulet, tekun, dan rajin.
Menjelang dewasa, Habib Abdullah menempuh pendidikan di Lembaga Pendidikan At-Taroqi, dari madrasah ibtidaiyah hingga tsanawiyah di Malang, kemudian melanjutkan ke madrasah aliyah di Pondok Pesantren Darul Hadits Al-Faqihiyyah li Ahlis Sunnah Wal-Jama’ah. Semua lembaga pendidikan itu berada di bawah asuhan ayahandanya sendiri.
Sebagai murid, semangat belajarnya sangat tinggi. Dengan tekun ia menelaah berbagai kitab sambil duduk. Gara-gara terlalu kuat belajar, ia pernah jatuh sakit. Meski begitu ia tetap saja belajar. Barangkali karena ingin agar putranya mewarisi ilmu yang dimilikinya, Habib Abdul Qadir pun berusaha keras mendidik Habib Abdullah sebagai ahli hadits.
Maka wajarlah jika dalam usia relatif muda, Habib Abdullah telah hafal dua kitab hadits shahih, yakni Shahihul Bukhari dan Shahihul Muslim, lengkap dengan isnad dan silsilahnya. Tak ketinggalan kitab-kitab Ummahatus Sitt (kitab induk hadits), seperti Sunan Abu Daud, Sunan Turmudzy, Musnad Syafi’i, Musnad Imam Ahmad bin Hanbal; Muwatha’ karya Imam Malik; An-Nawadirul Ushul karya Imam Hakim At-Turmudzy; Al-Ma’ajim ats-Tsalats karya Abul Qasim At-Thabrany, dan lain-lain.
Tidak hanya menghafal hadits, Habib Abdullah juga memperdalam ilmu musthalah hadist, yaitu ilmu yang mempelajari hal ikhwal hadits berikut perawinya, seperti Rijalul Hadits, yaitu ilmu tentang para perawi hadits. Ia juga menguasai Ilmu Jahr Ta’dil (kriteria hadits yang diterima) dengan mempelajari kitab-kitab Taqribut Tahzib karya Ibnu Hajar Al-Asqallany, Mizanut Ta’dil karya Al-Hafidz adz-Dzahaby.
Empat Madzhab
Selain dikenal sebagai ahli hadits, Habib Abdullah juga memperdalam tasawuf dan fiqih, juga langsung dari ayahandanya. Dalam ilmu fiqih ia mempelajari kitab fiqih empat madzhab (Madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hanbali), termasuk kitab-kitab fiqih lain, seperti Fatawa Ibnu Hajar, Fatawa Ramli, dan Al-Muhadzdzab Imam Nawawi.
Setelah ayahandanya mangkat pada 19 November 1962 (21 Jumadil Akhir 1382 H), otomatis Habib Abdullah menggantikannya, baik sebagai pengasuh pondok peantren, muballigh, maupun pengajar. Selain menjabat direktur Lembaga Pesantren Darul Hadits Malang, ia juga memegang beberapa jabatan penting, baik di pemerintahan maupun lembaga keagamaan, seperti penasihat menteri koordinator kesejahteraan rakyat, mufti Lajnah Ifta Syari’i, dan pengajar kuliah tafsir dan hadits di IAIN dan IKIP Malang. Ia juga sempat menggondol titel doktor dan profesor.
Al-Ustadz Al- Imam Al-habib Abdulloh & Sayyid Muhammad bin Alwi Al-Maliki
Sebagaimana ayahandanya, Habib Abdullah juga dikenal sebagai pendidik ulung. Mereka bak pinang dibelah dua, sama-sama sebagai pendidik, sama-sama menjadi suri tedalan bagi para santri, dan sama-sama tokoh kharismatik yang bijak. Seperti ayahandanya, Habib Abdullah juga penuh perhatian dan kasih sayang, dan sangat dekat dengan para santri.
Sebagai guru, ia sangat memperhatikan pendidikan santri-santrinya. Hampir setiap malam, sebelum menunaikan shalat Tahajjud, ia selalu mengontrol para santri yang sedang tidur. Jika menemukan selimut santrinya tersingkap, ia selalu membetulkannya tanpa sepengetahuan si santri. Jika ada santri yang sakit, ia segera memberikan obat. Dan jika sakitnya serius, ia akan menyuruh seseorang untuk mengantarkannya ke dokter.
Seperti halnya ulama besar atau wali, pribadi Habib Abdullah mulia dan kharismatik, disiplin dalam menyikapi masalah hukum dan agama. Tanpa tawar-menawar, sikapnya selalu tegas: yang haq tetap dikatakannya haq, yang bathil tetap dikatakannya bathil.
Sikap konsisten untuk mengamalkan amar ma’ruf nahi munkar itu tidak saja ditunjukkan kepada umat, tapi juga kepada pemerintah. Pada setiap kesempatan hari besar Islam atau hari besar nasional, Habib Abdullah selalu melancarkan saran dan kritik membangun – baik melalui pidato maupun tulisan.
Habib Abdullah juga dikenal sebagai penulis artikel yang produktif. Media cetak yang sering memuat tulisannya, antara lain, harian Merdeka, Surabaya Pos, Pelita, Bhirawa, Karya Dharma, Berita Buana, Berita Yudha. Ia juga menulis di beberapa media luar negeri, seperti Al-Liwa’ul Islamy (Mesir), Al-Manhaj (Arab Saudi), At-Tadhammun (Mesir), Rabithathul Alam al-Islamy (Makkah), Al-Arabi (Makkah), Al-Madinatul Munawarah (Madinah).
Habib Abdullah wafat pada hari Sabtu 24 Jumadil Awal 1411 H (30 November 1991) dalam usia 56 tahun. Ribuan orang melepas kepergiannya memenuhi panggilan Allah SWT. Setelah dishalatkan di Masjid Jami’ Malang, jenazahnya dimakamkan berdampingan dengan makam ayahandanya di pemakaman Kasin, Malang, Jawa Timur.

NASAB SAMAHATUL IMAM AL-QUTUB ALHABIB ABDULLOH BILFAQIH AL-‘ALAWY AL-HUSAINI MALANG JATIM
Sayyiduna Wa Maulana Al-Imam Al-Hafidz Al-Musnid Al-Qutub Al-Habib Abdullah Bilfaqih Al-Alawy RA

Sayyiduna Wa Maulana Al-Imam Al-Habr Al-Qutub Al-Habib Abdul Qodir Bilfaqih Al-Alawy RA

Sayyiduna Imam Al-Habib Muhammad bin Ibrahim Bilfaqih Al-alawy RA

Sayyidunal Imam Isa bin Muhammad Az-zamzany RA

Sayyidunal imam yahaya bin Muhammad jamalul lail RA

Sayyidunal imam Abdullah bin ahmad al-alawy RA

Sayyidunal imam al-allamtud dunya abdur rahman bin abdulloh bilfaqih Al-Alawy RA

Sayyidunal imam ahmad bin umar bin mudlor al-alawy

Sayyidunal imam al-gagihul muqoddam ats-tsany abdur rahman bin Muhammad as-assegaf RA

Sayyidunal imam abdulloh ba’alawy

Sayyidunal imam al-faqih muqoddam Muhammad bin ali ba’alawy RA
( Mursyid Pertama Thoriqoh Alawiyah )
Dari Sayyidunal Imam Al-faqih Muqoddam RA terbagi menjadi dua jalur yakni Jalur Ahlul Bait dan Jalur Toriqoh
Jalur Ahlul BaitSayyidunal imam al-faqih muqoddam Muhammad bin ali ba’alawy RA

Sayyidunal Imam Ali Bin Muhammad Ba’alawy RA
Sayyidunal Imam Muhammad bin ali ( Shohibul Marbath ) RA

Sayyidunal Imam Ali Bin Alwy Kholi Qosam RA

Sayyidunal Imam Muhammad Bin alwy bin Muhammad ba’alawy RA

Sayyidunal imam Alwy RA ( Jaddu Bani Alawy )

Sayyidunal Imam Ubaidillah bin ahmad Al-muhajir RA (Sultonul Wujud )

Sayyidunal imam Ahmad Bin Isa An-Naqib RA

Sayyidunal Imam Ali Al-Uraidhy Ra

Sayiidunal Imam ja’far As-Shodiq RA

Sayyidunal Imam Muhammad Al- Baqir RA

Sayyidunal Imam Ali Zainal Abidin RA

Sayyidunal Imam Abu Abdillah Al-Husain RA

Sayyidunal Imam Ali Bin Abi Tholib KRW

Sayyidunal Wa Maulana Muhammad Rasulullah SAW
Jalur Toriqoh Al-‘AlawiyyahSayyidunal Imam Al- Faqih Muqoddam Sayyiduna Muhammad Bin Ali Ba’alawy RA

Sayyiduna As-Syekh Abu Madyan Bin Syu’eb Bin Al-Husein RA

Sayyiduna As-Syekh Nuruddin Ali Bin Chizihim RA

Sayyiduna As-Syekh Abu Bakar Muhammad Bin Abdillah Al-Ma’arifi RA

Sayyiduna As-Syekh Abdul Malik RA
( Imamul Haromain )

Sayyiduna As-Syekh Abdullah Bin Yusuf Al-Juwainy RA

Sayyiduna As-Syekh Abu Tholib Muhammad Bin Ali Al-Makki RA

Sayyiduna As-Syekh Abu Bakar Dullaf Bin Juhdur As-Subly RA

Sayyiduna As-Syekh Abul Qosim Al-Junaid Bin Muhammad Al- Baghdad RA

Sayyiduna As-Syekh Abul Hasan As-Sirri As-Siqthi RA

Sayyiduna As-Syekh Abu Mahfudz Ma’ruf Al-Karkhi RA

Sayyiduna As-Syekh Abu Sulaiman Daud Bin Nushoir At-Tho’iy RA

Sayyiduna As-Syekh Abu Muhammad habib Bin Muhammad Al-Ajamy RA

Sayyiduna As-Syekh Abu Said Al-Hasan Bin Abil Hasan Al-Bashry RA

Sayyidunal Imam Ali Bin Abi Tholib KRW

Sayyiduna Wa Maulana Muhammad Rasululloh SAW

Sudah ada Al-Qur'an dan Hadits, Kenapa Masih Harus Ijtihad Ulama?

Sudah ada Al-Qur'an dan Hadits, Kenapa Masih Harus Ijtihad Ulama?

MusliModerat.Com - Ijtihad bukan tindakan untuk mengarang agama dan menyerahkan segala urusan agama semata-mata kepada logika dan akal manusia sambil meninggalkan Al-Quran dan As-Sunnah. Pemahaman ijtihad seperti ini tentu keliru besar. 

Pada hakikatnya, yang namanya ijtihad itu justru 100% memegang teguh Al-Quran dan As-Sunnah. Dan tidak lah sebuah ijtihad itu dilakukan, kecuali landasannya karena justru kita ingin menarik kesimpulan hukum dari Al-Quran dan As-Sunnah.

Mungkin orang bertanya lagi, bukankah Al-Quran dan As-Sunnah itu sudah jelas sekali, mengapa masih perlu ada ijtihad?

Jawabnya begini, memang tidak salah kalau dikatakan bahwa Al-Quran dan As-Sunnah itu sudah jelas, tetapi yang bisa dengan mudah membaca Al-Quran dan As-Sunnah dengan jelas itu hanya kalangan tertentu, yaitu hanya sebatas buat Rasulullah SAW dan para shahabat beliau yang tertentu saja. Sebab memang keduanya turun di masa mereka hidup.

Sementara begitu beliau SAW dan para shahabat wafat, dan Islam menyebar ke negeri jauh yang berbeda bahasa, budaya, adat, serta berbagai realitas sosial lainnya, maka mulai muncul berbagai jarak. Tidak semua pemeluk Islam paham bahasa Arab, bahkan tidak semua orang yang bermukim di Madinah seratusan tahun sepeninggal Rasulllah SAW merupakan orang-orang yang paham bahasa Arab.

Tidak usah jauh-jauh, sebagi contoh sederhana, ketika Rasulullah SAW menakar makanan yang beliau keluarkan untuk membayar zakat Al-Fithr, beliau menggunakan takaran yang disebut sha'. Sayangnya, orang-orang di Baghdad tidak mengenal benda yang namanya sha' tersebut. Maka para ulama di masa itu membuat sebuah penelitian, yang kira-kira memudahkan orang mengenal berapa sebenarnya ukuran satu sha' itu. Nah inilah yang disebut dengan ijtihad. Jelas sekali ijtihad itu justru dibutuhkan untuk memahami Al-Quran dan As-Sunnah, bukan mengarang-ngarang dan main logika semata.

<>Ijithad Dilakukan Oleh Para Shahabat

Ketika Rasulullah SAW masih hidup, banyak di antara para shahabat yang melakukan ijtihad, baik atas perintah beliau SAW atau pun atas inisiatif sendiri yang kemudian dibenarkan oleh beliau.

Dalam hal ini Nabi pernah berkata Pada Muaz bin Jabal radhiyallahuanhu

كيْف تقْضيِ إِذا عُرِض لك قضاء ؟ قال : أقْضِي بكِتابِ اللهِ .قال : فإِنْ لمْ تجِدْ فيِ كتِابِ اللهِ ؟ قال : فبِسُنّةِ رسُولِ اللهِ قال : فإِنْ لمْ تجِدْ فيِ سُنّةِ رسُولِ الله ولا فيِ كتِابِ الله ؟ قال : أجْتهِدُ رأْيِ ولا آلو . فضرب رسُولُ اللهِ صدْرهُ وقال : الحمْدُ لِلّه الّذِي وفق رسُولُ رسُولِ اللهِ لِما يرْضي رسُوْلُ اللهِ

Dari Muaz bin Jabal radhiyallahuanhu berkata bahwa Nabi bertanya kepadanya," Bagaimana engkau memutuskan perkara jika diajukan orang kepada engkau? Muaz menjawab, saya akan putuskan dengan kitab Allah. Nabi bertanya kembali, bagaimana jika tidak engkau temukan dalam kitab Allah? Saya akan putuskan dengan sunnah Rasulullah, jawab Muaz. Rasulullah bertanya kembali, jika tidak engkau dapatkan dalam sunnah Rasulullah dan tidak pula dalam Kitab Allah? Muaz menjawab, saya akan berijtihad dengan pemikiran saya dan saya tidak akan berlebih-lebihan. Maka Rasulullah SAW menepuk dadanya seraya bersabda,"Segala puji bagi Allah yang telah menyamakan utusan dari utusan Allah sesuai dengan yang diridhai Rasulullah (HR Abu Daud)

Amr bin Al-Ash telah melakukan ijtihad dalam hal-hal yang membolehkan seseorang bertayammum sebagai ganti dari wudhu', yaitu karena faktor cuaca yang amat dingin.

اِحْتَلَمْتُ فيِ لَيْلَةٍ بَارِدَةٍ شَدِيْدَةِ البَرْد فَأَشْفَقْتُ إِنِ اغْتَسَلْتُ أَن أَهْلَك فَتَيَمَّمْتُ ثُمَّ صَلَّيْتُ بِأَصْحَابيِ صَلاَةَ الصُّبْحِ فَلَمَّا قَدِمْنَا عَلىَ رَسُول اللهِ ذَكَرُوا ذَلِكَ لَهُ فَقَالَ : يَا عَمْرُو صَلَّيتَ بِأَصْحَابِكَ وَأَنْتَ جُنُب؟ فَقُلْتُ : ذَكَرْتُ قَوْلَ الله تَعَالىَ (وَلاَ تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُم إِنَّ اللهُ كَانَ بِكُم رَحِيْمًا) فَتَيَمَّمْتُ ثُمَّ صَلَّيْتُ فَضَحِكَ رَسُولُ اللهِ صلّى الله عليه وسلم وَلَمْ يَقُلْ شَيْئًا

Dari Amru bin Al-’Ash radhiyallahuanhu bahwa ketika beliau diutus pada perang Dzatus Salasil berkata"Aku mimpi basah pada malam yang sangat dingin. Aku yakin sekali bila mandi pastilah celaka. Maka aku bertayammum dan shalat shubuh mengimami teman-temanku. Ketika kami tiba kepada Rasulullah SAW mereka menanyakan hal itu kepada beliau. Lalu beliau bertanya"Wahai Amr Apakah kamu mengimami shalat dalam keadaan junub ?". Aku menjawab"Aku ingat firman Allah [Janganlah kamu membunuh dirimu sendiri. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih kepadamu] maka aku tayammum dan shalat". (Mendengar itu) Rasulullah SAW tertawa dan tidak berkata apa-apa. (HR. Ahmad Al-hakim Ibnu Hibban dan Ad-Daruquthuny).

Sepeninggal Rasulullah SAW pun para shahabat masih tetap melakukan ijtihad, dimana hasil ijtihad itu dibenarkan oleh seluruh shahabat yang lain dan terus berlangsung hingga sekarang ini.

<>Ijtihad Untuk Menulis Al-Quran dalam Satu Mushaf

Selama masa kenabian 23 tahun lamanya, belum pernah sekalipun Rasulullah SAW memerintahkan umatnya untuk menuliskan Al-Quran dalam satu mushaf. Namun sepeninggal beliau, masih di masa Khalifah Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahuanhu, umat Islam sepakat untuk menuliskan Al-Quran dalam satu bundel mushaf.

Awalnya dari ide Umar bin Al-Khattab radhiyallahuanhu yang disampaikan kepada khalifah, kemudian menjadi ijtihad jama'i hingga hari ini. Maka mushaf Al-Quran yang kita kenal saat ini, tidak lain merupakan produk ijtihad para shahabat di masa lalu, yang tidak didasari oleh perintah wahyu secara langsung. Dan masih banyak lagi penguat betapa dan mengapa, Ijtihad itu memang di benarkan Oleh Nabi. 

Saya rasa hadist di atas saja sudah lebih dari cukup bagi orang yang berakal untuk penjelasan atau jawaban singkat terkait pernyataan/pertanyaan yang sering di lontarkan beberapa tahun terakhir2 ini. :) 

Orang2 yang mudah menyalah2kan sesuatu itu hanya mereka yang kekurangan ilmu/informasi dan terburu2 untuk menjadi populer dengan mudah menyalah2kan. Sampai2 para Ulama pun di tentangnya. Naudzubillahi min dzalik.

wallahu a'lam bissawab

_ Santri Online

Surat Cinta Teruntuk Guruku "Buya Yahya"

Surat Cinta Teruntuk Guruku "Buya Yahya"
MusliModerat.Com - Terlepas dari sisi Plus Minus dari Sosok Buya Yahya, yang jelas beliau adalah pejuang ASWAJA yang patut kita teladani(keilmuannya saja).

Berikut Surat Cinta dari Santri Buya yang sedang belajar di Yaman:

 Buya, semoga Allah selalu menjagamu. Aku masih ingat nasehat tentang Hasud yang sering engkau utarakan di Majelis, khususnya lagi di kelas soal Hasud/Iri Dengki. Waktu itu engkau berkata, dan kata ini masih betul aku menghafalnya: "Laa Hasada Kahasadil Ulama", "Tak ada kedengkian melebihi dengkinya seorang Ulama". Itu adalah nasehat yang engkau terus sampaikan kepada kami dari Kalamnya Imam Ghozali.

Di sisi lain, Hasud itu sering terjadi dengan orang dengan profesi yang sama. Sesama pedagang, sesama pejabat, sesama pemberi layanan jasa dan sesama Ulama juga termasuk sesama Pendakwah. Tahun ini aku benar-benar merasakan arus fitnah itu kian genjar menerjangmu. Kian banyak orang menjatuhkanmu di Media Sosial karena tak suka akan kesuksesanmu. Aku sudah mendengar fitnah-fitnah murahan itu sejak aku masih menjadi pembawa sendalmu. Yah, mereka mengarahkan sejuta fitnah agar engkau dibenci. Begitulah adanya, "Semakin tinggi pohon menjulang, semakin kuat angin menerjang".

Tapi Buya, ketulusan dan keteguhanmu dalam jalan Dakwahnya tetap membuatmu tak bergeming dan tak membuatmu peduli dengan fitnah-fitnah murahan itu. Itu adalah prinsip yang engkau pegang dan engkau tanamkan pada kami di kelas. Jika ada orang yang mencoba menfitnahmu tak usah hiraukan dia, jangan kau malah menoleh padanya dan sibuk mengurus ocehannya. Teruslah engkau berdakwah sesuai prinsip dan jalan kebenaran yang engkau yakini, sebab jika orang memang peduli pada caramu dia akan menemuimu dan mebasehatimu bukan malah menyebarkan fitnah di muka umum akan dirimu. Jika dakwahmu berhasil dan terlebih engkau adalah pendatang, pastinya akan banyak orang tak suka padamu.
Aku jadi teringat teori sumur dan got. Semakin besar mata air sumur tersebut maka semakin besar got yang ada disekitarnya. Justru orang jauhlah yang benar-benar mengambil manfaat airnya, orang di sekitarnya malah meributkan got tersebut dan melupakan mata airnya, ironi memang.
Buya, aku pernah mendengar beberapa tudingan miring dari mantan jama'ahmu yang berguru pada lain Ustadz. Awalnya aku kira dia berniat baik dengan memberi kritik. Tapi, dugaanku salah Buya. Setelah aku memberi 10 jawaban atas 10 pertanyaannya, dia masih terus memberikan opini negatif akan dirimu di media umum. Akhirnya aku sadar, meski aku punya 2000 fakta untuk menjawab 1000 tuduhannya, dia tetap akan mencari 4000 tuduhan untuk membuatmu jatuh dan dibenci banyak orang. Aku masih ingat betul kisah Habib Hasan Baharun yang sering engkau sampaikan berulang-upang di kelas. Di mana suatu saat ada seorang yang mencaci beliau, malah beliau mendatangi orang tersebut dan berterima kasih telah memberikan nasehat, bahkan Habib Hasan memberi hadiah satu toples kongguan. Belum lagi kisah Imam Ali Zainal Abidin yang sering engkau kutip. Di mana ada seorang yang mengatakan beliau munafik, pendusta, pendosa dll. Tapi malah beliau tersenyum dan berterima kasih atas nasehat orang itu seraya berkata : "Yang nampak padamu baru sedikit dan engkau belum tahu yang tersembunyi dalam diriku".

Manhaj memaafkan pencaci dan tidak membalasnya dengan cacian adalah jalanmu. Aku tahu jalan berat yang engkau tempuh di mana engkau dihadapkan pada jalan yang tegas dan mau tidak mau harus kau jelaskan akan suatu kebenaran kepada Ummat. Jalan yang mau tidak mau mengorbankan dirimu dalam banyak tuduhan, itu memang resiko. Tapi aku tahu kenapa engkau mengambilnya. Buya, aku tahu pribadimu yang teduh dan menenangkan itu. 5 tahun, walaupun itu terbilang waktu yang sebentar kebersamaanku denganmu sebagai pembawa sendal, namun aku sangat faham watak dan karaktermu yang sesungguhnya. Sudah satu setengah tahun kita terpisah karena tugas baru yang engkau embankan kepadaku untuk menuntut ilmu di tanah jauh. Biarpun ada sejuta fitnah yang terus menerjangmu, pendirianku tetap tak akan berubah sebagai muridmu, sebab aku tahu siapa dirimu. Karena aku mengenalmu dari interaksi kita secara kangsung selama 5 tahun bukan melalui irang lain ataupun media.
Maafkan aku Buya belum bisa mengukir senyum di wajahmu, belum bisa menjadi murid yang berbakti pada gurunya. Namun tekatku sudah bulat untuk terus berjuang bersamamu di medan yang engkau inginkan. Mendukungmu sepenuh jiwa adalah kewajibanku, guruku.
Mukalla, Hadhramaut - Yemen. 26 Aug 2016.

Semoga beliau cepat diberi kesembuhan, dan menjadi Pejuang ASWAJA yang lebih baik dan lebih santun, AAmiin..

Golongan yang Sesat dan Selamat Menurut Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari

Golongan yang Sesat dan Selamat Menurut Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari
MusliModerat.Com - Abu Daud, at Tirmidzi, dan Ibnu Majah meriwayatkan dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah SAW bersabda:
 افْتَرَقَتِ الْيَهُودُ عَلَى إِحْدَى وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَتَفَرَّقَتِ النَّصَارَى عَلَى ثِنْتَيْنِ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً وَتَفْتَرِقُ أُمَّتِى عَلَى ثَلاَثٍ وَسَبْعِينَ فِرْقَةً ، كُلُّهَا فِي النَّارِ إِلاَّ وَحِدَةً
 Artinya: “Orang-orang Yahudi terpecah-belah menjadi 71 golongan. Orang-orang Nasrani terpecah belah menjadi 72 golongan. Dan umatku akan terpecah-belah menjadi 73 golongan, semuanya di neraka kecuali satu golongan saja.”
Para sahabat bertanya: “Siapakah golongan yang selamat itu, ya Rasulullah?” Beliau menjawab: “Mereka adalah orang-orang yang memegang teguh apa yang kuikuti dan diikuti oleh sahabat-sahabatku.”
Asy-Syihab al Khafaji rahimahullah dalam kitab Nasim ar Riyadl mengatakan: “Golongan yang selamat itu ialah golongan Ahlussunnah wal jama’ah.”
Dalam kitab Hasyiyah as Syanwani Ala Mukhtashar Ibnu Abi Jamrah disebutkan: “Mereka (kelompok yang selamat) itu adalah Abul Hasan al Asy’ari dan pengikutnya para Ahlussunnah(orang-orang yang menghidupkan sunnah) dan ulama-ulama terkemuka. Sebab, Allah SWT menjadikan mereka sebagai pemberi petunjuk bagi makhluk-Nya. Mereka adalah tempat mengadu bagi orang-orang awam dalam urusan agama mereka. Mereka adalah orang-orang yang dimaksud dalam sabda Nabi SAW ‘Sesungguhnya Allah tidak akan mengumpulkan umatku di atas kesesatan’.”
Dalam menjelaskan hadis ini Imam Abu Mansur bin Thohir At Tamimi mengatakan:
Para ahli bahasa meyakini bahwa yang beliau maksud bukanlah golongan-golongan tercela yang berselisih paham tentang cabang-cabang fiqih terkait masalah halal dan haram, tetapi beliau bermaksud mengecam orang yang berselisih paham dengan para pendukung kebenaran mengenai pokok-pokok tauhid, penentuan standar baik dan buruk, syarat-syarat menjadi nabi dan rasul, loyalitas kepada sahabat-sahabat Nabi SAW, dan masalah-masalah lain yang termasuk di dalam lingkup bab-bab ini. Sebab, orang-orang yang berselisih paham tentang masalah-masalah seperti ini saling mengkafirkan satu sama lain. Tidak seperti yang terjadi pada masalah-masalah jenis pertama (cabang-cabang fiqih). Sebab mereka yang berselisih paham tentang masalah-masalah jenis ini tidak menganggap kafir atau fasiq orang yang berbeda pendapat dengan mereka. Jadi, takwil hadis tentang perpecahan umat itu merujuk kepada perselisihan paham jenis (yang kedua) ini.
Pada akhir masa sahabat Nabi SAW telah muncul pendapat yang berbeda dari kelompok Qadariyah yang diusung Ma’bad al Juhani dan para pengikutnya. Sahabat-sahabat Nabi SAWgenerasi terakhir, seperti Abdullah bin Umar ra, Jabir ra, Anas ra dan lain-lain, sama sekali tidak mendukung mereka. Setelah itu muncul perselisihan demi perselisihan hingga jumlah golongan yang sesat genap menjadi 72 golongan. Dan golongan yang ke-73 ialah golongan Ahlussunnah Wal Jamaah yang merupakan al Firqah anNajiyah (golongan yang selamat).
Jika ada yang bertanya: “Golongan-golongan itu diketahui?”, jawabnya ialah: “Kita mengetahui adanya perselisihan paham dan golongan-golongan pokok. Dan tiap-tiap golongan terbagi menjadi golongan-golongan lagi, kendati kita tidak mengetahui nama-nama dari golongan-golongan tersebut dan madzhab-madzhab yang dianutnya.”
Golongan-golongan pokok itu ialah Haruriyah, Qodariyah, Jahmiyah, Murji’ah, Rafidlah dan Jabriyah. Sebagian ulama rahimahumullah mengatakan: “Pokok-pokok golongan sesat ialah enam golongan tersebut. Dan masing-masing golongan itu terbagi lagi menjadi 12 golongan. Sehingga jumlahnya menjadi 72 golongan. Ibnu Ruslan rahimahullah mengatakan: “Ada yang berpendapat bahwa rinciannya ialah: 20 golongan Rafidlah, 20 golongan Khawarij, 20 golongan Qodariyah, 7 golongan Murji’ah, dan 1 golongan al Firqah an Najiyah (golongan yang selamat) yang terdiri dari 10 golongan tetapi dihitung satu,  1 golongan Haruriyah, 1 golongan Jahmiyah, 3 golongan Karromiyah. Ini adalah 72 golongan.”
Demikian penjabaran Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari dalam kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah tentang pecahnya Islam menjadi 73 golongan dan satu selamat yaitu Ahlussunnah wal Jama’ah. Semoga kita menjadi bagian yang selamat itu, amin ya rabbal alamin. Wallahu a’lam.

Disarikan dari Kitab Risalah Ahlussunnah wal Jama’ah karya Hadratussyaikh KH. M. Hasyim Asy’ari/tebuireng.org